Standar Keamanan Dalam Industri Pangan





Persyaratan keamanan, mutu, dan gizi dari suatu produk pangan merupakan hal yang mutlak dicapai demi terciptanya perlindungan kesehatan konsumen dan perdagangan pangan yang jujur dan bertanggung jawab. Oleh karena itulah diperlukan standar keamanan pangan sebagai acuan untuk memenuhi persyaratan keamanan, mutu, dan gizi pangan.

Dalam standar internasional keamanan pangan dikenal Codex Alimentarius Commission (CAC) yang bertujuan untuk melindungi kesehatan konsumen serta memfasilitasi praktek yang fair dalam perdagangan pangan. Standar Codex bersifat non-mandatory, menjadi referensi bagi regulator baik di tingkat nasional maupun dalam transaksi perdagangan antar negara atau biasa disebut World Trade Organization (WTO). Jika masing-masing negara memberlakukan standarnya (ketentuan yang berlaku di negara A mungkin berbeda dengan negara B) maka dapat menimbulkan hambatan teknis perdagangan. "Oleh karena itu, adanya CAC dapat menjadi guideline jika terdapat dua hasil uji yang berbeda antar negara. Adanya standar internasional juga menjadi harapan tercapainya harmonisasi peraturan pangan antar negara," jelas Deputi Bidang Penerapan Standar dan Akreditasi – Badan Standardisasi Nasional (BSN), Kukuh S. Achmad, dalam seminar Keamanan Pangan yang diselenggarakan oleh TUV NORD Indonesia di Jakarta pada 5 Oktober 2016 lalu. Sampai dengan September 2016, CAC telah menerbitkan 212 standar berbasis komoditas (seperti mi instan, tepung terigu, keju mozzarella, dll), 73 codex guidelines (seperti klaim, label, penggunaan flavorings, dll), 51 code of practice (seperti telur dan produk telur, ikan dan produk ikan, desiccated coconut, dll), serta satu Maximum Residue Limits (MRLs) yaitu mencakup MRLs untuk pestisida, obat-obatan hewan, dan Extraneous Maximum Residue Limits (EMRLs).

Dalam standar internasional keamanan pangan, selain CAC dikenal pula International Organization of Standardization (ISO). Sedikit berbeda dengan CAC, ISO lebih banyak menitik-beratkan pada standar metode analisis sedangkan CAC lebih fokus dan mempertimbangkan aspek keamanan pangan. Diantara keduanya terdapat perjanjian-perjanjian untuk mencegah terjadinya standar yang tumpang tindih satu sama lain. Di dalam ISO terdapat beberapa Technical Committee (TC) yang menangani lingkup masing-masing seperti TC 54 tentang minyak esensial dan TC 93 tentang pati termasuk produk turunan dan by-product nya. Fri-29

Artikel Lainnya