Metode Uji Terstandar untuk Mengetahui Komposisi Gizi Produk





Regulasi dan standar metode pengujian pangan di masing-masing negara tentu berbeda. Standar tersebut secara berkala juga berubah mengikuti fakta yang terjadi di lapang atau pasar. Sebagai produsen pangan, meng-update informasi seputar standar dan regulasi sangat penting, terutama untuk memasuki pasar ekspor. Hal tersebut disampaikan oleh Ramesh Rao, Director, Food and Environmental Business Development Waters Corporation dalam seminar berjudul Advances Method for Food Composition Testing oleh Asosiasi Laboratorium Pangan Indonesia (ALPI) dan Kromtekindo Utama di Bogor pada 10 Juni 2015 lalu.

Metode pengujian terstandar sangat diperlukan untuk menguji dan mengetahui komposisi sebuah produk. Tak hanya perusahaan yang memroduksi pangan, namun laboratorium pangan juga memerlukannya. Penerapan metode pengujian terstandar dilakukan untuk untuk memenuhi regulasi dan kebijakan yang berlaku di setiap negara. 

Namun ada beberapa rujukan standar metode pengujian yang dipakai oleh banyak laboratorium di dunia yakni standar USP (US Pharmacopeial Convention), AOAC, ISO (International Organisation for Standardisation), dan CEN (European Committee for Standardisation). Metode pengujian tersebut digunakan untuk mengetahui komposisi sebuah produk untuk kemudian bisa diinformasikan kepada konsumen melalui label pangan. Namun kadang kecurangan masih saja terjadi, menurut Yusra Egayanti, S.Si, Apt, Kepala Subdit Standardisasi Pangan Khusus BPOM RI, terkadang label pangan pada produk yang telah diedarkan tidak sesuai dengan label yang awalnya diajukan ke BPOM, atau kadang isi tidak sesuai dengan keterangan yang tertera pada label. 

Namun kini menurut Ramesh, ada modernisasi dalam standar analisi gizi diantaranya menggunakan metode AOAC SPIFAN, metode untuk penilaian gizi, dan tren dalam analisi gizi. AOAC SPIFAN (Stakeholder Panel on Infant Formula and Adult Nutritionals) adalah bentukan dari AOAC International. Panel ini diprakarsai oleh beberapa produsen susu ternama, bertugas mengidentifikasi gap yang terjadi pada metode yang digunakan menganalisis label gizi pada susu formula bayi, menyelenggarakan konsensus AOAC secara sukarela untuk menstandardisasikan metodologi yang digunakan untuk menganalisis gizi, serta untuk mengevaluasi dan merekomendasikan metode yang terbaik. 

Dalam menganalisis gizi harus dipastikan kualitas dan keamanannya serta disesuikan dengan regulasi yang berlaku seperti misalnya food safety modernization Act (2001 US), US FDA Rules on Infant Formula (2014), Code of Federal Regulations – Nutritional Quality Guidelines for Foods dan Food Safety Act (2009 China).

Ada beberapa tantangan yang sering ditemui saat melakukan analisi gizi yakni standar internasional saat ini berdasarkan teknologi beberapa puluh tahun lalu, efek matrix menimbulkan tantangan besar untuk banyak metode, perdebatan muncul karena teknologi berbeda yang digunakan, metode yang telah ada kadang tidak sesuai atau tidak tervalidasi untuk formulasi baru atau produk baru.

Standar metodologi yang bersifat applicable sangat diperlukan untuk mengatasi masalah ini. Menurut Ramesh, standar baru berdasarkan teknologi UPLC dan MS sangat direkomendasikan sebagai standar baru. Keuntungan dengan menggunakan metode ini adalah meningkatkan metode ruggedness diantaranya dengan Stable isotope internal standardization dan meningkatkan kromatografi, serta meningkatkan jumlah sampel yang akan diuji dengan cara menyederhanakan prosedur sampel, meminimalkan instrumen yang digunakan, mengurangi waktu analisis, dan fast chromatography.  alpi (ita)

Artikel Lainnya